Acep Zamzam Noor,”Baligo dan Spanduk Pilkada Jadi Mimpi Buruk”

Budayawan Acep Zamzam Noor (dua kanan) saat berbicara dalam diskusi "Sampah Politik", di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Sabtu (4/5).(DEDE SUHERLAN/WARTA-24.COM)

Seniman Acep Zamzam Noor (dua kanan) saat berbicara dalam diskusi “Sampah Politik”, di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Sabtu (4/5).(DEDE SUHERLAN/WARTA-24.COM)

BANDUNG, WARTA-24: Seniman Acep Zamzam Noor melihat munculnya baligo dan spanduk saat  kampanye pemilihan kepala daerah (pilkada) atau dikenal dengan nama sampah politik secara psikologis jadi mimpi buruk.  Bagi warga, kondisi itu sangat menggangu keindahan lingkungan.

“Munculnya baligo dan spanduk tidak ada indahnya. Saat pemilihan gubernur lalu, saya melihat calon dari incumbent yang terpampang di mana-mana. Saat saya jalan-jalan ke kawasan selatan Garut waktu pilgub lalu, gambar itu dipasang sepanjang jalan. Terus terang saya pusing melihatnya. Kejadian yang sama terlihat saat pemilihan bupati dan walikota di beberapa daerah,” kata Acep saat berbicara dalam diskusi “Sampah Politik”, di Gedung Indonesia Menggugat, Jln. Perintis Kemerdekaan Bandung, Sabtu (4/5).

Dalam diskusi yang dipandu seniman Tisna Sanjaya itu, selanjutnya Acep menyebutkan, kreativitas dari pembuat baligo dan spanduk juga tidak terlihat. Dari semua baligo dan spanduk yang dia lihat, hampir semuanya memampangkan foto dan nama calon.

“Itu-itu saja bentuknya. Bahkan saat pilbup di salah satu kabupaten di Pantura, hampir semua calon terpampang dengan wajah dihiasi kumis di atas bibir. Ya karena memang si cabup (calon bupati) itu berkumis. Namun, karena melihat semua cabup berkumis, membosankan juga,” kelakar Acep.

“Sebenarnya tim sukses cawalkot atau cabup bisa lebih kreatif saat kampanye. Pada pilgub di Bangka Belitung dan di Kota Pangkalpinang misalnya, si calon yang maju dalam pilgub dan pilbup berinisiatif menulis buku. Itu kan lebih terlihat kreativitasnya. Biayanya pun lebih murah dibandingkan dengan membuat baligo atau spanduk,” tambah Acep.

Dosen Seni Rupa ITB, Gustaf, mengatakan, pilwalkot ibarat kontes idol. Namun, berbeda dengan idol yang melahirkan penyanyi baru, justru momen lima tahunan ini malah melahirkan penjahat dan koruptor baru.

“Itulah situasi menjemukan yang kini hadir di hadapan warga,” tandas Gustaf.

Sedangkan dosen Manajemen Perusahaan Unpad, Fiki, mengatakan, biaya yang harus dikeluarkan oleh cawalkot saat kampanye mencapai miliaran rupiah. Angka itu, kata dia, jadi tidak berjejak.

“Anggaran miliaran rupiah itu habis saat kampanye. Padahal, uang itu bisa saja kan disalurkan untuk hal-hal yang lebih maslahat di luar kampanye,” kata Fiki. (des)

 

Komentar

komentar